Ku ukir kembali kisah klasik untuk masa depan

“Coretan pena ini merupakan flash back  dari masa putih abu-abu hingga saat ini…”

Dulu aku pikir semua ini hanyalah mimpi yang tak mungkin bisa kuwujudkan. Aku hanya bisa berangan-angan akan indahnya masa-masa yang kujalani saat ini, masa dimana aku merasakan indahnya kuliah dan menemukan banyak hal baru yang bisa menjadi warna-warni ukiran kisah klasik dalam hidupku yang tak pernah terbesit dalam pikiranku sebelumnya. “Putih abu-abu” – selama tiga tahun aku hanya bisa terdiam termenung dan berfikir itulah akhir dari kisah klasik indahnya bangku pendidikan. Kisah yang tak pernah aku lupakan di saat putih abu-abu itu tak lepas dari tubuhku. Itu selalu terukir dalam memoriku yang akan selalu kubuka sebagai kisah klasik masa lalu untuk masa depanku nanti. Aku tidak mungkin bisa hidup tanpa masa lalu. Semuanya berkesinambungan seiring jalannya waktu, tetapi kisah klasik putih abu-abu akan selalu ku ingat, karena di masa itu aku berfikir itulah saat-sat akhir aku menempuh yang namanya pendidikan.

“TIDAK!!!, semua itu salah”, Allah selalu di sampingku, tak pernah sekali pun berpaling dariku. Apa yang aku lakukan semuanya seperti sudah tertata rapi bak buku di perpustakaan yg tertata dan akan selalu ada buku baru yang masuk. Sama seperti hidupku dimana akan selalu ada hal baru yang masuk mewarnainya. Aku menyadari aku dari kalangan orang yang kurang berada.  Aku tahu itu, tapi aku ingin sekali keluar dari kondisi itu dan membahagiaan orang tua ku yang sudah mengeluarkan cucuran keringat, kerja keras hanya demi aku. Aku selalu percaya doa orang tua itu selalu mengiringi semua apa yang aku lakukan. Sungguh aku bahagia dengan kondisiku saat itu sampai sekarang, dimana aku bisa merasakan kasih sayang yang tak terhingga dari orang tuaku yang mungkin tidak semua orang merasakan apa yang aku rasakan.

Mimpi??? Aku selalu bermimpi, aku bisa mencapai pendidikanku hingga tingkat tertinggi. Tapi itu hanya mimpi dimana setiap aku bangun dari tidur, semuanya hilang dan kembali ke kondisi semula. Tapi mimpi itu selalu datang mengiringi indahnya tidurku. Aku tak berharap lebih dari mimpi itu, karena aku bisa memakai putih abu-abu saja itu hal yang luar biasa bagiku, sebuah prestasi yang terukir dalam hidupku. Kemudian mimpi itu selalu memotivasi aku akan pentingnya pendidikan untuk masa depanku yang aku percaya cahaya itu datang menyinari hidupku yang dulunya masih redup.

Seiring matahari terbit dan terbenam kembali, aku ingat satu pernyataan dari mamake,“aku yakin kamu akan sukses”. Itulah yang memotivasi hidupku, rasa percaya diri menjadi kokoh terbangun menjadi pondasi hidup. Mamake, seorang wanita tangguh yang selalu ada buatku dimanapun aku berada. Dia selalu memotivasiku, sholat malam tak pernah henti mamake lakukan hanya demi aku. Mengingat pengorbanan mamake hingga suatu saat mamake harus sakit sampai harus dioperasi. Itu yang membuatku terharu, aku tidak boleh mengecewakan mamake. Pengorbanannya demi aku sangat besar. Jujur aku anak yang tak bisa lepas dari mamake. Entah orang mau bilang apa tentang aku.

Masa putih abu-abu saat itu tinggal menghitung hari sebelum aku mengenakan almamater pertanda masa-masa di SMK berakhir. Aku bangga saat itu, wisuda yang tak pernah kulupakan, meskipun aku sedih karena aku merasa itu akhir aku menempuh pendidikan dan awal aku untuk mencari kerja. Wisuda dengan baju putih celana hitam itupun terukir dalam kisah klasik hidupku. Saat itu mamake melihat kebahagiaanku di akhir masa SMK, aku berjalan di urutan pertama menerima tanda wisuda, itu pertanda aku berhasil menjadi juara. Apa yang aku inginkan tercapai saat itu, Hadiah untuk mamake. Saat itu mamake  menangis, aku pun demikian. Mungkin aneh melihat aku menangis, tapi itu keluar seketika saat aku melihat air mata mamake menetes. Saat wisuda itu aku sudah mencoba pendaftaran beasiswa di Paramadina, tapi aku tak pernah terbesit sekalipun bisa mendapatkannya, karena hanya orang terpilih yang mampu memperolehnya. Hingga hari-hari setelah itu, aku jadi seperti orang hilang entah tau mau kemana, hanya terdiam menanti pengumuman yang kurasa tidak mungkin aku diterima. Saat itu sudah kuputuskan untuk bekerja karena ku sudah sempat mendaftar bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di Indonesia. Kata kuliah, menjadi mimpi yang aku gantungkan di kamar dan menjadi penghias angan-angan.

Detik-detik pengumuman sebenarnya sudah kuabaikan seiring berjalannya waktu, sampai suatu ketika ku terima telepon dari kakakku dan ucapan selamat terlontar dari mulut kakakku. Apa arti semua ini?? “Aku di terima beasiswa” Ku teriak malam itu, sebuah anugerah Tuhan yang sangat indah. MImpi dan angan-angan semuanya menjadi kenyataan. Hingga saat ini aku bisa menempuh yang namanya bangku kuliah. Itu semua aku percaya tak pernah lepas dari doa mamake.  Pertama kali ku tahu pengumuman, orang yang pertama kuberitahu adalah mamake. Sujud syukur aku lakukan, “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah”, ternyata masih ada yang peduli dengan anak bangsa yang tidak mampu meneruskan pendidikan seperti aku. Paramadina, tak pernah terbesit sebelumnya aku bisa menginjak di atasmu. Aku serasa memiliki dunia baru dimana inilah saatku mengukir kisah klasik meneruskan kisah klasik putih abu-abu. Aku ingin suatu saat ini, dimana aku sudah tua, kisah klasik ini akan menjadi kenangan dan mejadi motivasi untuk anak cucuku kelak. Satu pernyataan yang akan ku jadikan motivasi untuk aku dan bahkan orang lain yairu “Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini”, Kini aku sudah berada di kota orang, kota metropolitan dimana aku jauh dari orang tua. Saatnya aku harus mandiri, aku pasti bisa. Semuanya mengalir seperti air, dan akan ku ambil ikan-ikan emas untuk ku taruh di akuarium kenangan sebagai hiasan hidupku kelak sebagai tolak ukur hasil jerih payahku selama ini. Jalanku masih panjang, sekarang aku bermimpi kembali, tapi semuanya berbeda, dulu aku hanya mengira mimpi itu hanya mimpi belaka. Tapi saat ini aku bermimpi suatu kenyataan yang pasti terjadi dan kuraih meskipun aku tidak kapan waktunya.

Terima kasih Tuhan, Terima kasih mamake, terima kasih Paramadina dan terima kasih semuanya, aku akan mengukir kalian dalam kisah klasikku. Cahaya di depan sangatlah terang menanti aku meraihnya. Saatnya aku membahagiakan orang tua. Aku berharap orang tua ku melihat aku memakai toga kesuksesan di Paramadina sebagai tonggak awal kesuksesanku nanti.

“Jadilah hidup ini sebuah ukiran yang tidak akan pernah hilang dari ingatan, karena melalui ukiran itu kita akan selalu belajar untuk lebih baik. Jangan lupa tetap bersyukur ya teman…”

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>