Ibuku, Sang Motivator dalam Hidupku…

Tulisan ini sebenarnya tulisan lama tapi aku publish saat valentine day 2010 dan didedikasikan untuk mamake…”


Ketika sebuah ucapan untuk seorang ibu harus disampaikan, aku hanya bisa mengucapkan “terima kasih ibu, terima kasih ibu, dan terima kasih ibu”. Terima kasihku tak pernah putus kepada ibu. Rasa syukur kepada Allah yang tak terhingga karena aku terlahir dari rahim ibu yang memiliki hati seperti emas.

Ibuku pernah bercerita kepadaku tentang aku yang dulu yang masih kecil dan cerita itu selalu membuatku terharu betapa kasih sayang ibu kepada anaknya yang tak pernah putus. Saat aku masih kecil, aku tidak sekuat sekarang, karena tiga bulan setelah lahir, aku terkena hernia, yaitu terjadinya gangguan di saluran kencing yang tersumbat. Mungkin aku tidak sadar saai itu, karena usiaku masih 3 bulan. Ibuku dengan sabar merawat, mengantarku ke dokter, bahkan ibu merelakan waktu istirahat untuk tidak tidur hanya demi aku yang saat itu masih polos tidak tahu apa-apa, Aku menangis ter-infus dan disuntik mungkin sehari bisa tiga kali. Ibuku bisa menenangkanku hingga aku tertidur pulas menghilangkan rasa sakit akibat suntikan. Aku menangis ketika rasa sakit itu muncul, dan tetesan air mata seorang ibu itu pun keluar dengan sendirinya seiring dengan kontak batin yang begitu kuat antara aku dan ibu. Jika aku sadar saat itu, aku ingin menghapus air mata ibu, ingin menyuruh ibu untuk istirahat, dan tidak ingin ibu merasa capek hanya karena aku. Begitulah yang aku lontarkan ketika ibu bercerita, ibuku sontak langsung menjawab, “Itu tidak mungkin, Ibu pasti menolak permintaan kamu karena seorang ibu tidak mau jauh dari anaknya apalagi dia sedang sakit, hanya ibu yang bodoh yang melakukan hal itu”. Aku langsung memeluk Ibu, “terima kasih ibu”, harta yang paling berharga untuk aku adalah Ibu.

Aku diberikan sebuah nama yang begitu indah oleh ibuku yaitu Wirawan Noviana, sebuah nama yang penuh makna, ibuku ingin aku menjadi seorang pahlawan yang tangguh yang tidak pernah mengenal putus asa. Nama itu pernah menjadi bahan ejekan teman-temanku disaat aku masih duduk di bangku sekolah dasar bahkan sampai sekarang, nama itu seperti nama perempuan. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih, dan menceritakan ke temanku bahwa dia salah. Dia tidak tahu betapa penting nama ini yang penuh makna harapan seorang ibu yang tulus. Temanku pun terdiam, nama ini tidak akan membuatku down justru akan menjadikan motivasi untuk aku sendiri. “Terima kasih ibu”, kuucapkan kembali karena ibu sudah memberikan nama yang begitu indah untukku.

Saat aku duduk di bangku sekolah dasar, ibuku senantiasa mengajari aku sopan santun. Ibuku sangat rendah hati, begitupun rendah hati itu diajarkan ke anaknya yaitu aku. Aku selalu diajarkan kesederhanaan yang bagi aku itu bermakna sampai sekarang. Ibu berharap, ketika aku besar nanti dan menjadi orang sukses, aku tetap menjadi aku yang dulu yang selalu sederhana dalam sikap, penampilan dan segalanya. Sungguh ibuku menjadi inspirasi buat aku. Ibu ku selalu mengajari aku apa yang dia bisa, menemani aku saat belajar dan selalu membuat hidupku lebih bermakna. Aku terlalu dimanja oleh ibu, karena ibuku tidak mau kehilangan aku. Aku sayang sekali dengan ibu, bahkan sampai aku duduk di bangku SMA aku masih manja dengan ibu.

Aku menyadari bahwa ibu melakukan semua ini agar aku bisa menjadi orang sukses. Aku berasal dari keluarga yang sederhana, ibuku saja hanya tamat sekolah dasar. Ibu menginginkan aku bisa meraih pendidikan setinggi-tingginya. Ibu dengan susah payah memotivasi aku untuk bisa meraih itu. Aku pun ingin membahagiakan ibu, aku belajar dengan giat, menunjukan bahwa aku bisa menjadi apa yang ibu inginkan. Saat aku masih di SD prestasiku jelek, aku menyadari akan pentingnya penghargaan untuk ibu, aku merubah semuanya 180 derajat, hingga ibu pun terkejut dengan perubahan prestasi belajarku. Aku senang karena ibu enang, tapi ibu selalu bangga kepadaku saat prestasiku jelek ataupun baik. Itu yang membuat aku selalu termotivasi untuk menjadi yang lebih baik.

Aku tidak mengetahui sebelumnya apa yang ibuku lakukan setiap malam buatku, dan keluarga. Tapi sekarang aku mengetahuinya, rasa haru itu muncul ketika aku mengetahuinya. Ternyata ibu ku wonder women, ibu selalu bangun tengah malam di saat aku tertidur hanya untuk sholat tahajjud. Aku mengetahui apa yang ibu selalu doakan saat sholat tahajjud karena ibu menceritakannya kepadaku. Ibu hanya ingin aku menjadi orang sukses yang selalu diberikan keberuntungan di jalannya. Ibu sungguh sangat baik, dia selalu meluangkan waktu istirahatnya hanya untuk kebaikan anak-anaknya. Aku percaya doa seorang ibu akan lebih manjur dibanding orang lain. Sungguh mulianya hati seorang ibu, aku ingin selalu bersama ibu.

Saat sebuah keputusanku untuk mengambil sekolah kejuruan di salah satu SMK Swasta di Purwokerto, ibu selalu mendukung keputusanku tanpa memberikan komentar. Karena ibuku percaya apa yang aku putuskan itulah yang terbaik buatku. Aku pun makin sayang ibu. Saat aku SMK, setiap harinya aku hanya bertemu dengan ibu di saat aku pulang jam 5 sore hingga aku berangkat sekolah kembali jam 7 pagi. Waktuku sangat singkat bertemu dengan ibu, bahkan hanya malam hari. Saat aku orientasi siswa baru di SMK, aku punya cerita yang membuatku teringat terus, begitu banyak yang harus aku bawa untuk masa orientasi. Aku berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore, dan hari itu juga setiap peralatan yang dibawa berubah-ubah yang membuatku bingung. Bahkan ada satu hari dimana aku merasa putus asa untuk tidak masuk keesokan harinya hanya gara-gara sebuah syarat yang sulit aku lakukan. Hari itu aku membawa snack besar yang penuh isi, dan senior memecahkan dan tumpah semua isinya. Padahal syarat hari esoknya snack itu harus dibawa dalam keadaan masih bergelembung isi angin yang tidak boleh diganti dengan yang baru. Betapa aku kagetnya dengan perintah itu, malamnya aku bingung bahkan putus asa. Ibu selalu memberikan motivasi untukku, aku ditegur oleh ibu karena aku putus asa. Aku tidak boleh putus asa hanya gara-gara sebuah snack atau hal kecil. Ibuku pun membantu memecahkan masalah, dia selalu membuatku percaya diri. Hingga permasalahan pun selesai, ibu dengan semangatnya keluar dari rumah malam hari untuk meminjam alat penutup plastik milik tetangga yang lumayan jauh hanya demi seorang anak. Sungguh mulia hati seorang ibu yang menginginkan anaknya tidak merasa putus asa. Mulai saat itu pun aku selalu merasa percaya diri dengan kemampuanku, karena ibuku yang selalu menjadi teladan buatku.

Aku berasal dari desa, sekolahku pun jauh di kota. Aku harus turun ke kota untuk menuntut ilmu. Tiap harinya aku keluar dari sekolah jam 5, aku pulang sampai rumah sudah gelap seiring bulan terbit di atas langit. Ibuku dengan sabar menunggu aku di pinggir jalan hanya ingin menjemput anaknya pulang. Hingga pernah suatu hari hingga malam aku tidak memperoleh angkot untuk pulang, ibu sangat cemas dan panic karena hal itu tidak biasa. Akupun datang dan ibu marah karena ibu merasa tidak mau kehilanganku. “Terima kasih ibu”, aku selalu ucapkan itu kepada ibu.

Ibuku pernah memarahi karena kesalahanku yang disadari hal itu memang salah. Tapi aku tidak pernah berontak selama ibu marah, karena aku percaya, Ibu lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk buatku. Saat ibu marah, itu hanya sesaat, di lubuk hati yang paling dalam ibu juga merasa bersalah membentak dan memarahi anaknya. Sehingga setelah ibu marah, pasti jangka waktu setelah itu semuanya hilang, ibuku kembali dengan senyuman yang penuh arti buat aku. Kasih ibu tak pernah putus hanya karena kesalahan anaknya, itu tidak mungkin terjadi.

Sebuah prestasi yang tak terduga saat itu yaitu dimana aku memperoleh juara siswa tekadan di daerahku. Perjuangan yang begitu berat benar-benar aku rasakan, dimana saat itu aku harus bisa membuat alat peraga dadakan satu hari, dan aku putuskan untuk membuat bel listrik, kucoba terus sampai aku menangis, dan ibuku ikut menangis karena dia tidak bisa membantuku. Melihat ibuku menangis, akupun termotivasi akan kata-kata ibu dimana aku tidak boleh putus asa. Aku berfikir dan konsentrasi dan akhirnya bel pun berbunyi. Sungguh senang malam itu, karena aku menjadi percaya diri untuk kompetisi hari esok. Dan hasil pun memuaskan, aku memperoleh juara 1. Aku sebenarnya ingin memberikan hadiah lomba itu ke ibu, akan tetapi ibu menolak, dia hanya bilang “Itu jerih payah kamu, kamu pantas mendapatkannya bukan untuk Ibu”, sungguh aku semakin sayang dengan ibu.

Saat wisuda SMK pun tiba, aku dengan bangganya memperkenalkan ibu aku ke orang lain. Saat ku tahu menjadi wisudawan terbaik, air mataku menetes keluar dari kelopak mata. Aku tak bisa membendung air mata bahagia ini. Ini aku persembahakan untuk ibuku. Aku melangkah ke depan untuk menerima penghargaan, aku melihat di bagian kursi tamu seorang ibu yang menangis melihatku menerima penghargaan itu. Dan ibu itu adalah ibuku, ibu yang selama ini memberikan motivasi kepadaaku dan selalu menjadi teladan buat aku. Air mataku pun keluar, setelah turun dari panggung, aku menuju ke ibu dan memeluk ibu, memberikan penghargaan itu ke ibu, “Ibu, ini semua untuk ibu,,,”. Ibu tersenyum kepadaku. Aku melihat beberapa ibu yang lain menangis melihat aku dan ibu. Mungkin aneh, tapi itulah aku dan ibuku. Satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan.

Aku mulai dewasa, setelah lulus sekolah aku harus bisa memutuskan aku harus kemana. Begitu banyak pilihan, kerja atau melanjutkan studi. Aku menyadari untuk kuliah rasanya tidak mungkin karena itu membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Sepertinya keputusan saat itu adalah kerja, tapi semuanya sirna saat pengumuman beasiswa keluar, dengan rasa senangnya aku berikan pengumuman itu kepada ibuku. Mimpi ibu akan aku wujudkan, aku akan menuntut ilmu setingi-tingginya selama aku masih mempunyai kemampuan dan kemauan. Ibuku mendukung 100% keputusanku untuk mengambil beasiswa. Tetapi konsekuensi dalam hal ini ada dimana aku harus jauh dari ibu. Jarak antara Jakarta dan Purwokerto yang begitu jauh harus memisahkan kita. Jujur aku tidak sanggup dengan hal itu. Mungkin karena aku terlalu manja, aku selalu ingin dekat dengan ibu. Hingga suatu waktu sebelum aku ke Jakarta, ibu memberikan nasihat kepada aku yang isinya bahwa aku sudah dewasa, saatnya aku harus bisa mengatur diri sendiri, mencoba jauh dari ketergantungan, aku disadarkan oleh ibu bahwa ibu tidak akan pernah berhenti berdoa untuk kesuksesanku. Ibuku pun menangis seraya memelukku, saat itu juga aku percaya aku pasti bisa. Ibu selalu ada di hatiku tidak akan pernah pergi meskipun raga kita berjauhan. Aku pun ikhlas jauh dari ibu, aku harus belajar untuk mandiri.

Satu semester aku jalani jauh dari ibu di Jakarta, dan  aku mendengar berita buruk dari ibu. Ibuku terkena penyakit kanker awal. Badanku lemes seketika mendengar kabar itu, rasanya saat itu juga aku ingin pulang, aku ingin menemani ibuku sama seperti saat ibuku menemani aku di saat aku sakit. Hingga suatu hari aku pulang untuk menemani ibuku operasi. Ibuku yang dulu gemuk, setelah aku pulang melihatnya menjadi kurus. Aku sedih melihat kondisi ibu saat itu. Aku selalu berdoa untuk  kebaikan ibuku. Keajaiban itu pun datang, Ibuku sembuh pulih ke kondisi semula, rasa syukur yang tak ternilai panjatkan kepada Sang Pencipta, Aku percaya Allah akan selalu menjaga ibuku dimanapun berada. Kini ibuku kembali dengan aktivitas rutinnya. Aku pun begitu, saat ini aku sudah semester tiga jurusan Teknik Informatika Universitas Paramadina, aku selalu berharap dapat membahagiakan orang tuaku terutama ibu nantinya. Amieen…

Ibu,
Mungkin saat ini kita jauh secara fisik,
tapi batin ini selalu dekat denganmu,
Aku pasti pulang dengan membawa kebahagiaan untukmu,
Kasihmu sepanjang masa, tak pernah terhitung nilainya
Aku janji aku akan membahagiakanmu Ibu…

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
12 Responses
  1. selly Imanda says:

    ceritanyaaa sediih jadi kebawa..
    tetep smangad yaaa ka..

  2. jazzmuhammad says:

    aku terharu we membacanya, semoga ibumu selalu diberi limpahan kesehatan….
    oya, hebat juga ya dirimu, banyak prestasi

    bagi2 dunk……

    hehe, sip2 semoga jadi SANG JUARA!!! hahahahaa

    oya jangan lupa mampir di tempatku ya…jalin silaturahim

  3. Selly : iya sel,, makasih ya,, smangad juga buat selly…

  4. Jazzuli : hehe,, aminnnn… ga juga kok,, aku sedikit prestasinya,, kitalahh sang juaraaaaa… boleh lah kapan2 yaa hehehe…

  5. permana says:

    kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa…
    hanya memberi tak harap kembali
    bagai sang surya menyinari dunia…

    wewe tulisannya menyentuh deh…but unfortunately i didnt celebrate valentine day…upz hehe

  6. makasih rik,, tulisan ini hanya untuk mama…

  7. siti fatimah says:

    Askum,
    ka aq sdh bca sma’y
    skrang aq lg ada tgas pembuatan bel listrik
    aq sma sx g bs buat’y
    mpe aq nangis
    blh g aq mnt tlong,
    krimin ke email aq ,smua tentang bel listrik
    sblum’y maaf ngrepotn
    aq tnggu bsk
    wasalam

  8. maaf bgd siti,, file-file itu aku tinggal di purwokerto,, dan sekarang aku udah di jakarta,, kamu bisa search di google banyak kok,, soalnya bel listrik sudah umum dibuat… bahkan kamu bakal dapet yang lebih lengkap… sukses yaa,, skali lagi maaf bgd…

  9. indra says:

    wah jd merinding dengernya…emank kasih sayang ibu tak tergantikan…

  10. hehe,, makasih ya udah baca… betul banget kasih ibu tiada tara…

  11. hehehe,, bener bgd kasih ibu emng tiada tara…

  12. mimiyy says:

    waahh,, haru bgd nih k,,,
    slalu sayang mamah ,,,
    smangadh yahh k,,,

    (me)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>